Friday, August 30, 2013

Ketika Cinta Jadi Benci

Sekitar tiga bulan lalu, presenter Raffi Ahmad mengaku masih sangat mencintai Yuni Shara kendati mereka sudah putus hubungan. Namun begitu ditahan pihak berwajib dalam kasus kepemilikan narkoba, Raffi menolak kedatangan Yuni, tak mau menemuinya, bahkan tidak mau menerima barang pemberiannya. Mengapa rasa cinta yang mendalam bisa mendadak berubah jadi benci?

Dalam pandangan psikolog Sonny Andrianto, S.Psi, M.Si, seseorang memendam kebencian biasanya karena pengalaman tidak menyenangkan, sehingga meruntuhkan kesan positif. Dalam kasus Raffi, mungkin ia merasa sangat terpukul dengan peristiwa yang menimpanya saat ini. Rasa cinta bisa berubah menjadi benci dalam waktu relatif singkat. Apalagi, kata Sonny, musibah yang dialami Raffi sebenarnya semacam shock therapy. Secara tiba-tiba ia mengalami sebuah peristiwa di luar dugaan. 

“Pengalaman pertama dipolisikan ini mungkin merupakan pengalaman paling tidak menyenangkan baginya,” ujar Sonny yang mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

Namun benarkah di balik rasa benci biasanya masih ada cinta? 

Sonny menuturkan, jika peristiwa yang dialami membuat dia mengalami trauma psikologis dan membuatnya terpuruk, bisa jadi rasa cinta sudah hilang. Namun haru diingat, “semakin kita berusaha melupakan, justru makin melekat di memori,” katanya. 

Karena itu Sonny menyarankan, jika benci pada seseorang, sebaiknya jangan dipikirkan secara mendalam. Anggap saja semua itu bagian dari sebuah proses alami. Bila seorang individu memahami dalam kehidupan ini ada proses alami dan pasang surut, hal-hal yang traumatis bisa dihilangkan dari memori. 

Jangan biarkan rasa benci bertahan berlarut-larut, karena akan mempengaruhi kesehatan psikologis dan kehidupan menjadi tidak tenang. Bahkan pada tahap tertentu, perasaan benci akan memunculkan prasangka-prasangka pada orang lain. Orang lain yang sebenarnya netral, malah dicurigai telah membencinya. 

Kebencian berdampak tidak baik dalam kehidupan pribadi, yaitu selalu curiga pada orang lain. “Padahal dalam kehidupan ini kita butuh orang lain yang bisa dipercaya untuk berbagi,” jelas Sonny.

Orang semacam ini tidak akan menemukan objek pelengkapnya. Ia tidak akan menemukan orang yang dia percaya untuk media katarsisnya, menumpahkan permasalahannya.

Apa yang sebaiknya dilakukan bila ada orang membenci kita?
Menurut Sonny, tergantung pada orangnya, apakah terpengaruh atau tidak dengan kebencian tersebut. Seperti dalam kasus Raffi, jika Yuni merasa tidak berkepentingan atau tidak terpengaruh isu-isu yang muncul, ia tak perlu melakukan sesuatu. 

Namun bila sudah berpengaruh, mengganggu kehidupan pribadi dan mengganggu kondisi psikologisnya, seseorang bisa melakukan tindakan lain untuk memulihkan kepercayaan. Pola pendekatan dan klarifikasi, lanjutnya, bisa meruntuhkan kebencian. Tapi perlu diingat, untuk mewujudkan interaksi personal dibutuhkan komunikasi dua arah. “Tidak hanya satu pihak saja,” tandasnya. 

http://id.she.yahoo.com/saat-cinta-berubah-jadi-benci-114442475.html

0 comments:

Post a Comment